Jakarta, BEM PTNU News- Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara menegaskan sikap tegasnya terhadap sejumlah media nasional yang dinilai telah menyudutkan pondok pesantren, kiai, dan santri melalui pemberitaan yang memberi kesan negatif.
Anggota Kajian Strategis dan Advokasi Nasional BEM PTNU, Fikri Muh Anshor, menyampaikan bahwa pemberitaan yang mengarah pada stigma buruk terhadap dunia pesantren sangat tidak pantas, apalagi menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada bulan Oktober.
“Kami para santri sangat menyesalkan media yang menampilkan pesantren, kiai, dan santri dengan kesan yang mencederai marwah mereka,” ujarnya.
Ia menilai, media seharusnya berperan sebagai peneduh suasana di tengah memanasnya isu nasional, serta menjaga kesejukan ruang publik. “Media seharusnya menjadi garda terdepan dalam meredakan situasi yang panas, agar masyarakat tidak terprovokasi oleh isu yang menyesatkan,” tegasnya.
Fikri juga menyoroti munculnya pola pemberitaan yang sarat kepentingan politik. Menurutnya, di tengah kekacauan informasi tentang pemerintahan, muncul upaya pengalihan isu dengan menjadikan pesantren sebagai sasaran.
“Ketika pemberitaan tentang pemerintah sedang disorot karena berbagai persoalan, tiba-tiba pesantren digiring dalam arus isu negatif. Padahal, pesantren sejak jauh sebelum kemerdekaan telah memberi kontribusi besar bagi bangsa ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, peringatan Hari Santri seharusnya menjadi momentum penghormatan terhadap peran pesantren dalam sejarah perjuangan Indonesia, bukan dijadikan bahan pemberitaan yang menyesatkan dan menimbulkan keresahan.
“Menjelang Hari Santri, justru muncul isu yang menekan para kiai dan santri. Saya merasa prihatin melihat media besar yang memperkuat narasi keliru tentang pesantren. Hal ini melukai perasaan kami sebagai santri,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Fikri mengajak masyarakat agar lebih cermat dan berimbang dalam menanggapi isu yang berkembang. Ia menyerukan agar publik menelaah kembali motif di balik pemberitaan yang menyerang lembaga pesantren.
“Perlu disadari, setiap isu pasti memiliki kepentingan. Maka masyarakat perlu menilai dengan keseimbangan antara akal dan nurani,” tutupnya.
Editor: Nurul Faizah
Publisher: Ahmad Rifa’i










Leave a Reply