Jakarta, BEM PTNU News- Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara menyoroti kasus keracunan massal dalam program makan bergizi gratis. Kritik tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Kajian Strategis dan Advokasi Nasional BEM PTNU, Arya Eka Bimantara, menyusul laporan investigasi BBC News Indonesia sepanjang 17 Januari hingga 18 September 2025.
BBC mencatat lebih dari 5.626 kasus keracunan di sekolah dasar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, dan sejumlah daerah lain. Ribuan anak mengalami gejala muntah, pusing, hingga harus menjalani perawatan medis.
Arya menilai program ini berjalan tanpa pengawasan ketat. “Bukti lapangan menunjukkan lemahnya standar keamanan makanan, mulai dari pemasok, kualitas bahan baku, hingga proses pengolahan,” ujarnya. Banyak penyedia katering lokal juga tidak memenuhi standar higienitas yang ditetapkan BPOM dan Kementerian Kesehatan.
Selain itu, BEM PTNU menilai data resmi pemerintah tidak transparan. Menurut Arya, kasus sering diakui setelah mendapat sorotan media, sementara evaluasi dilakukan secara parsial. Respons pemerintah juga dianggap lambat dan tidak menyeluruh, meski pola kasus keracunan telah berulang sejak awal tahun.
“Bagi anak-anak dan orang tua korban, peristiwa ini menimbulkan trauma mendalam serta menggerus kepercayaan terhadap program makan bergizi gratis. Padahal, program ini dirancang untuk menekan angka stunting dan gizi buruk,” tegas Arya.
Melihat kondisi tersebut, BEM PTNU menilai kelalaian dan lemahnya pengawasan sama saja dengan pengabaian terhadap hak dasar anak untuk hidup sehat dan selamat. Oleh karena itu, Arya mendesak pemerintah menghentikan sementara program makan gratis hingga semua aspek keamanan terpenuhi.
BEM PTNU pun merumuskan empat tuntutan utama:
- Audit menyeluruh oleh BPOM, Kementerian Kesehatan, serta lembaga independen terhadap seluruh rantai pasok.
- Publikasi data kasus secara terbuka dan real time melalui kanal resmi pemerintah.
- Penegakan hukum tegas bagi penyedia makanan yang lalai.
- Kompensasi dan rehabilitasi bagi korban serta edukasi kesehatan untuk keluarga dan sekolah.
“Program makan bergizi gratis adalah amanat besar bagi masa depan bangsa, namun keamanan dan kualitas harus menjadi prioritas utama. Jangan sampai program strategis ini berubah menjadi hadiah beracun bagi anak-anak Indonesia,” tutupnya.
Editor: Nurul Faizah
Publisher: Ahmad Rifa’i










Leave a Reply