Komisi XII DPR RI Terima Aspirasi BEM PTNU Se-Nusantara soal Energi Terbarukan dan Lingkungan

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi dan beberapa perwakilan pengurus pusat BEM PTNU Se-Nusantara menyampaikan aspirasi dalam audiensi bersama Komisi XII DPR RI di ruang sidang DPR RI, Jakarta, Rabu (21/01/26), membahas pengembangan energi terbarukan, tata kelola pertambangan, dan pengawasan lingkungan hidup.

Jakarta, BEM PTNU News- Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menerima audiensi Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Se-Nusantara, yang bertujuan untuk mewadahi aspirasi, pandangan, serta masukan mahasiswa terkait pengembangan energi baru terbarukan, tata kelola sektor pertambangan, dan pengawasan lingkungan hidup. Pertemuan tersebut bertempat di ruang sidang DPR RI, Jakarta, pada Rabu (21/01/26).

Audiensi ini, dihadiri sejumlah anggota Komisi XII DPR RI lintas fraksi, antara lain Putri Zulkifli Hasan dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Sartono Hutomo dari Partai Demokrat, Gulam Mohamad Sharon dari Partai NasDem, dan Ratna Juwita Sari, Iyeth Bustami, dan Dipo Nusantara Pua Upa dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jalal Abdul Nasir dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), serta Eddy Soeparno dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga menjabat Wakil Ketua MPR RI.

Dalam pertemuan tersebut, Komisi XII DPR RI menyampaikan apresiasi atas kehadiran mahasiswa sebagai mitra kritis dalam proses legislasi. Komisi XII menegaskan komitmen membuka ruang partisipasi publik, terutama generasi muda, dalam pembahasan sejumlah Rancangan Undang-Undang (RUU), seperti RUU Energi Baru Terbarukan, RUU Gas, RUU Ketenagalistrikan, dan RUU Iklim.

Komisi XII juga memaparkan mitra kerja utama, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dipimpin Bahlil Lahadalia, Kementerian Investasi di bawah Rosan Roeslani, serta Kementerian Lingkungan Hidup (LH) yang dipimpin Hanif Faisol Nurofiq.

Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Achmad Baha’ur Rifqi, menyampaikan bahwa organisasinya menaungi sekitar 456 Perguruan Tinggi NU di berbagai wilayah Indonesia. Ia mengapresiasi Komisi XII DPR RI yang memberikan ruang dialog bagi mahasiswa NU sebagai representasi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan hasil kajian strategis.

Menurut Baha, sapaan akrabnya, lahan bekas tambang mengalami degradasi fisik dan biologis, kehilangan unsur hara, serta kerusakan vegetasi penutup, sehingga memerlukan pendekatan pemulihan berbasis riset dan kebijakan berkelanjutan.

“Fokus utama BEM PTNU Se-Nusantara diarahkan pada isu energi bersih dan energi terbarukan sebagai respons atas kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan di berbagai daerah,” katanya.

Direktur Lembaga Kajian Strategis dan Advokasi Nasional BEM PTNU Se-Nusantara, Arya Eka Bimantara, menekankan pentingnya tata kelola pertambangan dan pengendalian pencemaran lingkungan berbasis data. Ia menilai Indonesia berada pada persimpangan penting pembangunan nasional sehingga memerlukan penguatan regulasi, pengawasan, serta akselerasi kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan.

Tantangan transisi energi, terutama pengembangan energi surya, yang masih terkendala aspek regulasi dan implementasi, kata Abim, peran masyarakat dan komunitas lokal dalam transisi energi memerlukan perhatian lebih, mengingat banyak inisiatif energi mandiri tumbuh di tingkat akar rumput, seperti pengembangan turbin air oleh komunitas santri di Tasikmalaya yang masih terkendala pendampingan teknis dan pelatihan.

“Data kehilangan hutan seluas 4,7 juta hektare dalam sepuluh tahun terakhir. Pemulihan lingkungan pascatambang memerlukan pelatihan berbasis praktik lapangan agar masyarakat setempat dapat diberdayakan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Perwakilan BEM PTNU Se-Nusantara lainnya, M. Nadhim Ardiansyah, memaparkan hasil riset pemanfaatan tanaman indigofera sebagai solusi rehabilitasi lahan pascatambang. Tanaman tersebut dinilai mampu memperbaiki struktur tanah, pH, serta unsur hara makro, sekaligus berpotensi menjadi sumber biomassa energi terbarukan dan pakan ternak bernilai ekonomis.

“Persoalan sampah, termasuk potensi limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan pengelolaan sistematis, yang dapat mendukung pemulihan lahan tambang yang terdegradasi,” ucap Nadhim, Direktur Pertanian dan Energi BEM PTNU Se-Nusantara.

Menutup audiensi, Baha berharap pertemuan ini menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, DPR RI, dan pemerintah dalam mendorong transisi energi yang adil, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, serta pemulihan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

“Riset dan gagasan mahasiswa memerlukan dukungan nyata agar memberi dampak luas bagi masyarakat,” pungkasnya.

Editor: Nurul Faizah

Publisher: Ahmad Rifa’i

Lembaga Media, Teknologi, Riset, dan Komunikasi Publik BEM PTNU Se-Nusantara